Sabtu, 02 November 2013

Tulisan 16



Dampak panjang demo buruh bagi perusahaan dan ekonomi nasional

Merdeka.com - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin ikut angkat bicara menanggapi maraknya aksi demo buruh yang terjadi beberapa hari terakhir. Menurut Suryamin, demo buruh bisa berdampak pada penurunan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) negara jika terjadi berlarut-larut.
Suryamin menyebut, demo buruh akan sangat terasa pada output perusahaan. Produksi perusahaan berhenti berjam-jam dan berpengaruh pada indeks produksi. Dengan kata lain, perusahaan menjadi tidak produktif lagi.
"Demo buruh akan berpengaruh pada output yang berhenti berjam-jam. Nanti itu harus dipertimbangkan. Berpengaruh kepada indeks produksi perusahaan," kata Suryamin di Gedung BPS, Jakarta, Jumat (1/11).
Tidak hanya itu, nilai tambah produksi juga akan terus menurun. Dengan menurunnya nilai tambah dan output produksi, akhirnya membuat kemampuan perusahaan menggaji karyawan menjadi tergerus.
"Nilai tambah akan terus menurun, kemampuan cost produksi akan turun. Kalau terlalu lama pada PDB sektor masing masing. Itu kan nanti akhir tahun berdampak atau tidak," katanya.
Disinggung soal pengurangan produksi karena demo buruh, Suryamin enggan menjelaskannya. Dia hanya mengatakan, penurunan produksi masih bisa ditutupi dari sektor lain.
"Tapi kan ada sektor lain yang mendorong perekonomian kita," tutupnya.

Analisis:
Demo buruh akan sangat terasa pada output perusahaan. Produksi perusahaan berhenti berjam-jam dan berpengaruh pada indeks produksi. Dengan kata lain, perusahaan menjadi tidak produktif lagi. Tidak hanya itu, nilai tambah produksi juga akan terus menurun. Dengan menurunnya nilai tambah dan output produksi, akhirnya membuat kemampuan perusahaan menggaji karyawan menjadi tergerus. Jika perusahaan tidak mampu lagi untuk menggaji karyawan, maka perusahaan akan melakukan pemberhentian tenaga kerja. Terjadi peningkatan pengangguran, dan otomatis daya beli dan konsumsi masyarakatpun menurun.

http://www.merdeka.com/uang/dampak-panjang-demo-buruh-bagi-perusahaan-dan-ekonomi-nasional.html
Dikutip tanggal : 02-11-2013

Tulisan 15



Kunci kurangi defisit perdagangan ada di sektor migas

Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai aktivitas impor. Ini berkaitan dengan kondisi neraca perdagangan Indonesia yang kembali mengalami defisit pada September 2013. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan bulan September kembali mengalami defisit sebesar USD 657,2 juta.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan, defisit neraca perdagangan tidak lepas dari aktivitas impor yang meningkat. Ini yang harus diwaspadai. "Tren neraca perdagangan terutama impor migas perlu kita waspadai," kata Mirza di Gedung Bank Indonesia, Jumat (1/11).
Nilai impor Indonesia pada bulan September meningkat menjadi USD 15,47 miliar dari USD 13,03 miliar pada bulan Agustus 2013. Sedangkan nilai ekspor juga mengalami kenaikan menjadi USD 14,81 miliar dari bulan Agustus 2013 yang sebesar USD 13,16 miliar.
"Neraca migas ini sebenarnya tantangan kita yang paling struktural. Karena ekonominya gerak terus, sementara sumber energi kita yang utama masih datang dari migas, produksi dalam negeri stagnan, sehingga, dipenuhi dari impor. Sehingga impor migas kita setiap bulan masih terus defisit," ungkap Mirza.
Kunci untuk mengurangi defisit neraca perdagangan ada di sektor migas. Produksi dan penggunaan energi alternatif sudah harus dilakukan agar Indonesia tidak terus menerus bergantung pada impor migas.
"Kuncinya di impor migas. Mudah mudahan tren-nya tidak terus meningkat. Tapi memang kalau roda ekonominya bergerak terlalu cepat itu kan membutuhkan energi, nah sumber energi saat ini yang utama masih datang dari migas. Memang makannya harus ada perubahan struktural dalam penyediaan energi di Indonesia. Yaitu diversifikasi," tegasnya.


Analisis:
Neraca perdagangan bulan September kembali mengalami deficit, defisit neraca perdagangan tidak lepas dari aktivitas impor yang meningkat. Terutama impor migas perlu diwaspadai. Kunci untuk mengurangi defisit neraca perdagangan ada di sektor migas. Produksi dan penggunaan energi alternatif sudah harus dilakukan agar Indonesia tidak terus menerus bergantung pada impor migas. Pemerintah harus mewaspadai aktivitas impor, terutama impor migas.

http://www.merdeka.com/uang/kunci-kurangi-defisit-perdagangan-ada-di-sektor-migas.html

Dikutip tanggal : 02-11-2013

Tulisan 14



Konsumen Indonesia khawatir kondisi ekonomi dan politik di 2014
Merdeka.com - Nielsen Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions mendapati fakta, konsumen Indonesia khawatir akan kondisi stabilitas ekonomi dan politik tahun depan. Wajar saja mengingat tahun depan merupakan tahun politik, pergantian presiden dan wakil presiden serta pemilihan anggota DPR hingga DPRD.
Kekhawatiran akan keadaan ekonomi menjadi urutan teratas. Tingkat kekhawatirannya mencapai 43 persen. Sedangkan kekhawatiran akan stabilitas politik sekitar 14 persen.
"Kita dapat melihat kekhawatiran mengenai stabilitas politik meningkat, di mana sangat mungkin hal tersebut merupakan respons atas semakin dekatnya pemilihan presiden tahun depan," ujar Managing Director Nielsen Indonesia Catherine Eddy dalam keterangan tertulis yang diterima merdeka.com, Sabtu (2/11).
Konsumen Indonesia justru tidak lagi khawatir akan dampak dari naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti yang terjadi pada kuartal pertama dan kedua.
"Pada kuartal sebelumnya, Peningkatan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi kekhawatiran utama di mana 28 persen konsumen menyatakan bahwa hal tersebut menjadi kekhawatiran terbesar pertama dan kedua," ucapnya.
Menurut Catherine, pada kuartal III 2013, peningkatan harga BBM tidak termasuk dalam peringkat lima teratas kekhawatiran utama bagi konsumen di Indonesia.
Catherine menyimpulkan, konsumen Indonesia memiliki ketahanan yang tinggi dalam menghadapi tantangan dan cepat beradaptasi dengan situasi. "Setelah beberapa bulan kita tidak lagi melihat peningkatan harga BBM sebagai kekhawatiran utama," paparnya.

Analisis:
Konsumen Indonesia justru tidak lagi khawatir akan dampak dari naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti yang terjadi pada kuartal pertama dan kedua. Justru konsumen Indonesia khawatir akan kondisi stabilitas ekonomi dan politik tahun depan. Wajar saja mengingat tahun depan merupakan tahun politik, pergantian presiden dan wakil presiden serta pemilihan anggota DPR hingga DPRD. Bahkan kekhawatiran akan keadaan ekonomi menjadi urutan teratas. Tetapi konsumen Indonesia memiliki ketahanan yang tinggi dalam menghadapi tantangan dan cepat beradaptasi dengan situasi.


http://www.merdeka.com/uang/konsumen-indonesia-khawatir-kondisi-ekonomi-dan-politik-di-2014.html
Dikutip tanggal : 02-11-2013


Tulisan 13



Kadin: Ketidaktegasan pemerintah buat ekonomi memburuk
Merdeka.com - Terus melemahnya nilai tukar Rupiah hingga menembus angka Rp 10.300 per USD masih terjadi defisit neraca transaksi membuat ketahanan ekonomi semakin rapuh.
Peneliti LP3EI Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Didik J Rachbini, mengatakan beban yang ditanggung pemerintah saat ini cukup berat. Salah satu contohnya ialah defisit neraca perdagangan yang terjadi hingga semester I 2013 mencapai USD 3 miliar.
"Sekarang ini rezim pemerintah sudah mewariskan empat defisit antara lain defisit neraca transaksi berjalan, defisit perdagangan, defisit primer dan neraca pembayaran. Dulu kan hanya defisit transaksi berjalan saja," ujarnya saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (2/8).
Menurutnya, saat ini akar permasalahan pelemahan Rupiah tidak hanya di sektor moneter saja tetapi juga karena kebijakan pemerintah yang terus saja mengambang, ragu dan tidak jelas dalam mengatasi masalah subsidi APBN. "Belum lagi keputusan mengurangi subsidi BBM berjalan dua tahun dengan wacana yang mempertajam ketidakpastian," jelas dia.
Tarik ulur implementasi kenaikan harga BBM oleh pemerintah, lanjutnya, justru membuat impor BBM membengkak. "Selama wacana itu ada makan impor BBM membengkak dan pasti memberi tekanan pada Rupiah," tegasnya.
Sektor industri menjadi yang paling besar terkena dampaknya. Imbasnya tentunya ialah pemberhentian kerja para buruh.
"Perdagangan dalam kelompok industri yang surplus USD 28,3 miliar pada lima tahun lalu, sekarang defisit USD 23,6 miliar. Sektor ini benar-benar hancur dan mengalami anomali yang tidak semestinya," ujar dia.

Analisis:
Negara Indonesia sudah mengalami defisit yang sangat parah. Untuk tahun ini  mengalami 4 defisit antara lain defisit neraca transaksi berjalan, defisit perdagangan, defisit primer dan neraca pembayaran. Permasalan yang sangat mengakar adalah kebijakan pemerintah yang terus saja mengambang, ragu dan tidak jelas dalam mengatasi masalah subsidi APBN. Sektor industri menjadi yang paling besar terkena dampaknya. Imbasnya tentunya ialah pemberhentian kerja para buruh.


Dikutip tanggal : 02-11-2013

Tulisan 12



Menteri keuangan banggakan dampak positif kenaikan BBM
Merdeka.com - Kebijakan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada Juni 2013 lalu diklaim membuat postur anggaran negara tahun depan menjadi lebih longgar. Dengan kenaikan BBM, pemerintah bisa menghemat anggaran subsidi sebesar Rp 18,4 triliun.
Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan penghematan anggaran tersebut akan dialihkan untuk pembangunan infrastruktur sebesar Rp 13 triliun.
"Efeknya terhadap kenaikan harga BBM subsidi pemerintah saat ini memiliki tabungan Rp 18,4 triliun, dan tabungan tersebut dialokasikan Rp 13 triliun untuk tambahan anggaran infrastruktur," ujar dia usai acara halal bihalal di Kantor BKPM, Jakarta, Senin (19/8).
Chatib mengklaim apabila BBM subsidi tidak dinaikkan maka anggaran infrastruktur pada tahun depan mengalami penurunan. Dia berharap adanya tambahan anggaran infrastruktur sebesar Rp 13 triliun mampu membuka lapangan pekerjaan sehingga konsumsi masyarakat akan tetap terjaga untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
"Ada pekerjaan, masyarakat mendapatkan pendapatan, ada pendapatan masyarakat bisa belanja, belanja ini akan mendorong ekonomi Indonesia," jelas dia.
Menurut Kepala BKPM ini, jika anggaran infrastruktur ingin lebih besar lagi, maka pemerintah harus menaikkan lagi harga BBM. Namun, kata dia, keputusan kenaikan harga BBM subsidi memang lebih kepada keputusan politik yang akan berdampak pada stabilitas ekonomi.
"Tapi untuk menaikkan harga BBM lagi kan tidak mudah, itu keputusan politik dan dampaknya ke mana-mana, seperti saat ini inflasi Juli mencapai 3,3 persen naik tinggi dan berpengaruh daya beli dan investasi di customer goods juga kurang baik saat ini, dampak inflasi sendiri masih akan terasa di Agustus ini, mungkin September baru mulai normal," jelas dia.

Analisis:
Subsidi BBM dikurangi berdampak pada kenaikan harga BBM, tetapi kenaikan hargai itu bisa menambah dana untuk memperbaiki infrastruktur, dengan adanya infrastruktur yang memadai mampu membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat sehingga konsumsi masyarakat akan tetap terjaga untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

http://www.merdeka.com/uang/menteri-keuangan-banggakan-dampak-positif-kenaikan-bbm.html

Dikutip tanggal : 02-11-2013